Vlad III
Sejarah Terbentuknya Lambang Garuda Pancasila
Saat memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Indonesia belum memiliki lambang negara. Sebenarnya, pada 16 November 1945 telah dibentuk Panitia Indonesia Raya, yang diketuai oleh Ki Hajar Dewantara dan sekretaris Muhammad Yamin yang bertugas untuk menyelidiki arti lambang-lambang dalam peradaban bangsa Indonesia sebagai langkah awal untuk kajian tentang lambang negara.
Namun terjadi Perang Kemerdekaan Indonesia 1945-1949 sehingga tugas Panitia Indonesia Raya dalam membuat kajian tentang lambang negara menjadi tertunda. Setelah penyerahan kedaulatan Indonesia oleh Belanda sebagai hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 27 Desember 1949, Indonesia (saat itu berbentuk Republik Indonesia Serikat) harus segera memiliki lambang negara.
Presiden Sukarno kemudian membuat surat keputusan presiden (Keppres) Republik Indonesia Serikat Nomor 2 pada 30 Desember 1949, yang isinya mengangkat Sultan Hamid II menjadi menteri negara zonder portofolio (menteri yang tak mengepalai kementerian) yang diberi mandat untuk melakukan perancangan lambang negara dan menyiapkan gedung parlemen RIS.
Pada sidang Kabinet RIS kedua tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Lencana Negara yang bertugas mengadakan sayembara dan menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah. Susunan panitia teknis, Ketua adalah Muhammad Yamin dan sebagai anggota adalah Ki Hajar Dewantoro, M. A. Pellaupessy, Moh. Natsir, dan RM Ng Poerbatjaraka.
Menteri Penerangan Priyono kemudian mengumumkan hasil sayembara perancangan lambang negara yang diikuti oleh banyak peserta, dengan dua kandidat untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah yaitu rancangan Sultan Hamid II dan Muhammad Yamin.
Merujuk keterangan Bung Hatta dalam buku “Bung Hatta Menjawab”, pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR adalah rancangan Sultan Hamid II. Karya M. Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari yang menampakkan adanya pengaruh dari Jepang.
Setelah rancangan terpilih, dialog intensif antara perancang (Sultan Hamid II), Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilakukan untuk keperluan penyempurnaan rancangan itu. Mereka bertiga sepakat mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”.
Tanggal 8 Februari 1950, rancangan lambang negara yang dibuat Menteri Negara zonder portofolio, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Soekarno setelah mendapat masukan dari Partai Masyumi karena dianggap terlalu bersifat mitologis karena adanya tangan dan bahu manusia yang memegang perisai pada gambar burung Garuda.
Presiden Soekarno kemudian menyerahkan rancangan tersebut kepada Kabinet RIS melalui Moh. Hatta sebagai perdana menteri. AG Pringgodigdo dalam buku “Sekitar Pancasila” terbitan Dep. Hankam, Pusat Sejarah ABRI menyebutkan, rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS pada 11 Februari 1950.
Pemakaian Garuda Pancasila sebagai lambang negara
Pemakaian Garuda Pancasila sebagai lambang negara pertama kali secara resmi dalam Sidang Kabinet Republik Indonesia Serikat pada 11 Februari 1950.
Bentuknya pun seperti yang dikenal saat ini yakni kepala menoleh ke kanan, simbol-simbol Pancasila di badannya, serta semboyan Bhinneka Tunggal Ika tertulis di atas pita yang dicengkeram kaki Garuda.
Burung Garuda memiliki 17 helai di sayap, 8 helai bulu ekor, 19 helai bulu pangkal ekor, dan 45 helai bulu leher yang melambangkan kemerdekaan Indonesia yakni 17-08-1945.
Mitologi Garuda
Garuda sudah dikenal melalui mitologi kuno dalam sejarah bangsa Indonesia yang muncul dalam berbagai kisah, terutama di Jawa dan Bali. Dalam banyak kisah, Garuda melambangkan kebajikan, pengetahuan, kekuatan, keberanian, kesetiaan, dan disiplin. Sebagai kendaraan Wishnu, Garuda juga memiliki sifat Wishnu sebagai pemelihara dan penjaga tatanan alam semesta.
Garuda sebagai kendaraan (wahana) Wishnu tampil di berbagai Candi kuno di Indonesia, seperti Prambanan, Mendut, Sojiwan, Penataran, Belahan, Sukuh, dan Cetho dalam bentuk relief atau area. Di Prambanan terdapat sebuah candi di muka candi Wishnu yang dipersembahkan untuk Garuda, akan tetapi tidak ditemukan Arca Garuda di dalamnya.
Di Candi Siwa Prambanan terdapat relief episode Ramayana yang menggambarkan keponakan Garuda yang juga bangsa dewa burung, jatayu, mencoba menyelamatkan Shinta dari cengkeraman Rahwana. Arca Anumerta Airlangga yang digambarkan sebagai Wishnu tengah mengendarai Garuda dari Candi Belahan mungkin adalah Arca Garuda Jawa Kuno paling terkenal, kini arca ini disimpan di Museum Trowulan.
Dalam tradisi Bali, Garuda dimuliakan sebagai “Tuan segala makhluk yang dapat terbang” dan “Raja agung para burung”. Di Bali Garuda digambarkan sebagai makhluk yang memiliki kepala, paruh, sayap, dan cakar elang, tetapi memiliki tubuh dan lengan manusia. Biasanya digambarkan dalam ukiran yang halus dan rumit dengan warna cerah keemasan, digambarkan dalam posisi sebagai kendaraan Wishnu, atau dalam adegan pertempuran melawan Naga.
Warna keemasan pada burung Garuda melambangkan keagungan dan kejayaan. Garuda memiliki paruh, sayap, ekor, dan cakar yang melambangkan kekuatan dan tenaga pembangunan.
Posisi mulia Garuda dalam tradisi Indonesia sejak zaman kuno telah menjadikan Garuda sebagai simbol nasional Indonesia, sebagai pewujudan ideologi Pancasila. Garuda digunakan sebagai lambang negara untuk menggambarkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar dan negara yang kuat.
Makna Bagian-Bagian Burung Garuda Pancasila
1. Bagian Tubuh Garuda Pancasila
Tubuh Garuda Pancasila memiliki jumlah bulu yang mengandung makna tersendiri. Bulu pada sayap Garuda Pancasila berkumpul 17 helai yang menumpuk tanggal 17. Bulu pada ekornya yang masuk 8 bulu pada leher bulan 8. Sedangkan bulu pada cabang 45 helai yang menumpuk tahun 45. Sehingga jika digabungkan, jumlah bulu-bulu pada burung Garuda Pancasila hari kemerdekaan Indonesia. Perisai di bagian depan Garuda Pancasila melindungi perlindungan terhadap bangsa Indonesia.
2. Bagian Gambar pada Perisai Garuda Pancasila
Lambang bintang, rantai, pohon beringin, kepala banteng, padi dan kapas yang terdapat pada pelindung Garuda Pancasila memiliki makna tersendiri. Bintang sila pertama dalam Pancasila yaitu ketuhanan Yang Maha Esa. Rantai keunggulan kedua yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab. Pohon beringin sila ketiga yaitu persatuan Indonesia. Kepala banteng sila keempat yaitu kerakyatan yang dipimpin dalam permusyawaratan perwakilan. Padi dan mencakup seluruh sila kelima yaitu keadilan sosial bagi rakyat Indonesia.
3. Bagian Letak Warna pada Tubuh Garuda Pancasila
Dalam Desain Garuda Pancasila, warna pun tidak dipilih. Ada makna yang bintang dibalik penggunaan warna-warna tersebut.
Warna Merah yang terdapat pada pelindung kanan bawah dan kiri atas mengandung arti keberanian.
Warna kuning yang digunakan untuk warna bintang, rantai, padi dan kapasitansi bermakna kemegahan dan keluhuran.
Warna hijau yang berarti kesuburan terdapat pada pohon beringin.
Warna putih yang berarti kesucian dan kemurnian terdapat pada pelindung bawah kanan atas dan kiri juga digunakan pula sebagai warna pita yang dicengkram.
Warna hitam yang berarti keabadian digunakan untuk warna kepala banteng, penutup tengah latar belakang bintang, dan tulisan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”.
4. Semboyan di Garuda Pancasila
Semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang terdapat pada Garuda Pancasila berasal dari kata Bhina-Ika Tunggal-Ika yang dalam bahasa Jawa menjadi Beda-Iku Tunggal-Iku artinya berbeda itu, kesatuan itu. Oleh karena itu Bhinneka Tunggal Ika berbeda-beda tetapi tetap satu juga.
Tuan Burung Garuda
Banyak sekali yang mempertanyakan apakah keberadaan burung garuda itu benar-benar nyata atau hanya kisah dalam perwayangan saja. Kedutaan Besar Italia untuk Indonesia menerbitkan sebuah buku berisi catatan harian tentang seorang nahkoda asal Portugis yang bercerita tentang kisah-kisah yang dialami di Nusantara dari awal abad ke 16 sampai pada masa kolonial Belanda. Buku tersebut diberi judul “Marcopolo”. Dalam buku yang diterbitkan berseri itu diberitahu tentang seorang anak di pulau Karimunjawa. Burung garuda yang raksasa tampak di pulau Karimunjawa sedang mencengkram seekor kerbau. Pastilah bukan sekedar burung besar biasa jika bisa mencengkram seekor kerbau, kan?
Komentar
Posting Komentar