Vlad III

Gambar
    Vlad III, yang juga dikenal dengan julukan "Vlad the Impaler" atau "Vlad Dracula," adalah seorang pemimpin militer dan penguasa yang dikenal karena kebijaksanaannya yang keras dan tindakan kejamnya selama masa pemerintahannya di Wallachia, sebuah wilayah di Transilvania, sekarang bagian dari Rumania. Vlad Dracula hidup pada abad ke-15 dan memiliki reputasi yang kuat dalam sejarah Eropa. Berikut adalah profil singkat mengenai Vlad Dracula: 1. Kelahiran dan Keturunan: Vlad Dracula, juga dikenal sebagai Vlad III atau Vlad Tepes, lahir pada sekitar tahun 1431, di Sighisoara, Transilvania (sekarang bagian dari Rumania). Ia adalah anggota keluarga Draculesti dan merupakan keturunan dari Vlad II Dracul. 2. Pemerintahan di Wallachia: Vlad Dracula memerintah Wallachia dalam beberapa periode selama abad ke-15. Pemerintahannya yang paling terkenal adalah ketika ia menjadi Voivode (penguasa) Wallachia pada tahun 1456, kemudian pada tahun 1476. Selama masa pemerintahannya, i...

MOBILITAS SOSIAL

 1. Pengertian mobilitas sosial

     Mobilitas sosial merupakan sebuah fenomena sosial yang kerap terjadi dalam kehidupan sosial.    Mobilitas bisa berarti  suatu gerakan atau perpindahan yang menimbulkan perubahan. Sementara sosial berkaitan dengan kehidupan masyarakat.

Pengertian mobilitas sosial menurut para ahli

Pengertian mobilitas sosial menurut Anthony Giddens

    Menurut Anthony Giddens, mobilitas sosial adalah gerakan dari orang per orang dan kelompok-kelompok di antara kedudukan-kedudukan sosial ekonomi yang berbeda. 

Pengertian mobilitas sosial menurut Paul B Horton dan Chester L Hunt

    Paul B Horton dan Chester L Hunt berpendapat bahwa mobilitas sosial merupakan tindakan berpindah dari suatu kelas sosial ke kelas sosial lainnya.

Pengertian mobilitas sosial menurut Pitirim A. Sorokin

    Pitirim A. Sorokin menyatakan bahwa mobilitas sosial dapat dilakukan melalui beberapa saluran yang disebut sirkulasi sosial (social circulation). Sirkulasi sosial dapat berupa Angkatan Bersenjata, Lembaga Keagamaan, Lembaga Pendidikan, Organisasi Politik, dan Organisasi Keahlian.

2. Bentuk mobilitas sosial

    a. Mobilitas sosial vertikal*

    Merupakan perubahan kedudukan sosial dalam posisi yang tidak sederajat. Jenis mobilitas ini dibagi menjadi dua, yaitu 

Social sinking atau gerak mobilitas sosial ke bawah, yaitu perubahan kedudukan sosial dari kedudukan tinggi ke yang lebih rendah. 

Contohnya pegawai kantor yang melakukan korupsi, lalu dipecat. 

Social climbing atau gerak mobilitas sosial ke atas, yaitu perubahan kedudukan sosial dari posisi rendah ke posisi tinggi. 

Contoh: warga yang diangkat jadi ketua RT, staff biasa diangkat jadi manajer.


    b. Mobilitas sosial horizontal

    Mobilitas sosial yang terjadi karena adanya perubahan kedudukan sosial yang masih dalam posisi sederajat.

Misalnya  perpindahan warga negara, pindah lokasi penugasan tanpa mengubah jabatan.

3. Faktor pendorong mobilitas sosial

 - Struktural

    Faktor ini terkait dengan kesempatan seseorang untuk menempati sebuah kedudukan serta kemudahan untuk memperolehnya. 

    Kalau di Indonesia sih struktur masyarakatnya sangat terbuka. Jadi, kesempatan kamu untuk menempati berbagai jabatan yang tinggi, seperti manajer bahkan presiden, menjadi lebih besar, lho Mates! 


  - Individu

    faktor ini terkait dengan kualitas individu yang dilihat dari segi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Manusia, kan dilahirkan dalam status sosial yang dimiliki orang tuanya. Nah, jika seseorang tidak puas dengan status sosial yang diwariskan, ia dapat berusaha untuk mencapai status sosial yang lebih tinggi. 

    Namun, dia harus berpendidikan terlebih dahulu agar menjadi individu yang berkualitas.


 Ekonomi

    Jika situasi ekonomi dalam masyarakat cenderung baik maka mobilitas sosial pun dapat terwujud. Kondisi ekonomi yang baik membuat masyarakat mudah memperoleh modal, pendidikan, dan kesempatan lainnya. 

    Tapi, kalau kondisi ekonominya buruk, masyarakat akan memiliki pendapatan terbatas sehingga sulit untuk memenuhi seluruh kebutuhannya dan mobilitas sosial tidak akan bisa terjadi.

 - Politik

    Faktor yang satu ini sangat bergantung pada situasi politik suatu negara. Keadaan negara yang tidak stabil akan memengaruhi kondisi keamanannya. 

    Untungnya saat ini kondisi keamanan Indonesia sedang baik, nih sehingga roda pembangunan pun dapat berjalan. Dengan begitu, ketersediaan dan kemudahan dalam bekerja juga lebih baik sehingga masyarakat mampu melakukan mobilitas sosialnya.


  - Kependudukan

    Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk di Indonesia hampir selalu bertambah dari waktu ke waktu. 

    Pertambahan itu bisa mempersempit lahan pemukiman bahkan meningkatkan kemiskinan lho! 

    Makanya, masalah kependudukan seperti ini mendorong individu dan pemerintah untuk mengarahkan masyarakat agar bermigrasi ke daerah lain sehingga mobilitas sosial pun terjadi.

4. Faktor Penghambat mobilitas sosial

- Kemiskinan

    Masyarakat yang mengalami kemiskinan akan kesulitan untuk mencapai status sosial tertentu. 

    Salah satu penyebab kemiskinan adalah pendidikan yang rendah. Apa hubungannga dengan pendidikan yang rendah? Jadi gini Mates, dengan pendidikan yang rendah, kualitasnya sebagai sumber daya manusia pun juga menjadi rendah. Akibatnya, kemampuannya untuk bersaing dalam mendapatkan pekerjaan menjadi terbatas.

- Diskriminasi

    Diskriminasi adalah membedakan perlakuan terhadap sesama karena alasan beda bangsa, suku, ras, agama, dan golongan. 

- Stereotype Gender

    Membeda-bedakan karakteristik serta posisi sosial laki-laki dan perempuan, seperti memiliki pandangan bahwa derajat laki-laki lebih tinggi daripada wanita juga bisa menghambat mobilitas sosial, lho!

    Misalnya, pandangan bahwa perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi karena nantinya yang bekerja adalah suami. Nah, perilaku seperti itu dapat menghalangi prestasi dan kesempatan seseorang untuk melakukan mobilitas agar status sosialnya meningkat.

5. Saluran mobilitas sosial

- Angkatan Bersenjata

    Angkatan bersenjata memiliki garis komando yang tegas, yang mana para prajurit harus patuh sepenuhnya pada perintah atasan. 

    Kenaikan status seorang prajurit sangat bergantung pada kedisiplinan dan intelektualnya, sehingga keberadaannya di masyarakat sangat dihargai. 

    Mereka dianggap sebagai pelindung masyarakat.


- Lembaga Keagamaan

Para tokoh agama mempunyai kedudukan yang terhormat di dalam masyarakat. 

Mereka sering memberikan nasihat keagamaan sehingga keberadaannya lebih dihargai oleh masyarakat.

- Lembaga Pendidikan

    Sekolah merupakan sarana yang konkrit untuk melakukan gerak vertikal, bahkan dianggap sebagai perangkat sosial (social elevator) dari kedudukan yang rendah menuju kedudukan yang tinggi.

- Organisasi Politik

    Partai politik menjanjikan peluang yang besar dalam meningkatkan status sosial seorang politikus yang profesional.

    Aktivitasnya yang sering berorasi di depan umum dengan mengatasnamakan partai, membuat namanya terkenal, sehingga keberadaannya lebih dihargai oleh masyarakat. Hal ini akan mempengaruhi status sosialnya.

- Organisasi Ekonomi

Organisasi ini bersifat relatif terbuka dalam meningkatkan status seseorang. 

    contohnya pada saat pemilihan Manajer Keuangan pada PT. Subur Ekonomi, beberapa orang karyawan mencalonkan diri untuk posisi yang menjanjikan itu, mereka akan gencar dalam berkampanye.

- Organisasi Keahlian

    Para profesional membentuk wadah untuk menampung aspirasi para anggotanya yang berprofesi sama. 

    Misalnya; Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI), Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan sebagainya.

6. Dampak positif mobilitas sosial

- meningkatkan integrasi sosial. 

- mempercepat tingkat perubahan sosial. 

- mendorong seseorang untuk lebih maju. 

- meningkatkan kesejahteraan hidup.

7. Dampak negatif mobilitas sosial

- munculnya konflik

- gangguan psikologis

- munculnya keretakan dalam suatu hubungan.

Berdasarkan materi diatas, social climbing juga bisa terdapat pada suatu organisasi. 

Misalnya, salah satu anggota dari organisasi pramuka yang ditunjuk untuk menjadi ketua atau pemimpin dalam organisasi tersebut. 

Hal itu disebut bentuk mobilitas social climbing karena mengalami perubahan posisi dari anggota menjadi ketua.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KESALAHAN BERPIKIR