Vlad III
Teknologi luar angkasa diawali dengan perlombaan antariksa. Perlombaan ini adalah sebuah perang dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet (sekarang Rusia), yang masing-masing selalu ingin menjadi yang pertama. Istilah tersebut muncul pertama kali pada 14 Oktober 1957, ketika Uni Soviet berhasil meluncurkan sebuah satelit tanpa awak yang bernama Sputnik I. Peluncuran itu sangat mengejutkan Amerika Serikat. Sputnik I juga menjadi awal bagaimana teknologi luar angkasa bisa berkembang seperti hingga saat ini.
Ternyata, Soviet cukup ambisius!!
Sebulan setelah Sputnik I, mereka kembali meluncurkan satelit bernama Sputnik II, yang saat itu diawaki seekor anjing bernama Laika.
Namun, misi kedua Soviet itu gagal. Sputnik II meledak dan Laika tewas.
Melihat Soviet yang sudah dua kali meluncurkan satelit, Amerika Serikat pun tidak tinggal diam.
Dalam bayang-bayang Soviet, Amerika Serikat ingin bergegas membalas.
Awal Desember di tahun yang sama, Amerika Serikat mencoba meluncurkan satelit pertama buatan dalam negeri mereka yang bernama Vanguard. Sayangnya, misi itu gagal. Kegagalannya disebabkan oleh sesaat sebelum meluncur, roket beserta satelitnya meledak di landasan peluncuran.
Amerika Serikat pun kembali melakukan riset dan pengembangan satelit berikutnya setelah insiden tersebut.
Tak lama setelahnya pada 31 Januari 1958, Amerika Serikat akhirnya bisa menandingi Soviet dengan meluncurkan satelit pertamanya, Explorer 1. Satelit dengan bobot seberat 13 kilogram itu aktif mengitari bumi sebelum akhirnya hilang kontak pada 23 Mei 1958.
Balas membalas misi luar angkasa itu terus berlangsung hingga puncaknya, yaitu Soviet meluncurkan manusia ke luar angkasa.
Terpilihlah Yuri Gagarin, manusia pertama yang ke luar angkasa pada 12 April 1961 dalam misi bernama Vostok 1 untuk mengorbit bumi pada ketinggian sekitar 327 kilometer selama sekitar 108 menit, sebelum akhirnya kembali lagi mendarat dengan aman.
Pendaratan Di Bulan
Mendaratkan manusia di bulan dan mengembalikannya dengan aman ke bumi dalam satu dekade adalah tujuan nasional yang ditetapkan oleh Presiden Amerika Serikat saat itu, John F. Kennedy, pada tahun 1961 setelah Soviet meluncurkan Yuri Gagarin.
Bagi mereka, mendaratkan manusia di bulan merupakan sebuah prestasi paling tinggi dalam bidang teknologi.
Dan benar saja! dalam rentang tahun 1961 hingga 1969, Amerika Serikat mempersiapkan segala teknologi yang dibutuhkan, mulai dari roket, modul pendarat, hingga pelatihan astronotnya.
Hingga pada tanggal 20 Juli 1969, astronot Neil Armstrong dan kawan-kawannya mendarat di bulan dalam misi Apollo 11.
Oh iya, tidak hanya Apollo 11 saja yang berhasil mendarat di bulan, Melainkan ada enam misi Apollo lainnya yang berhasil mendarat pada rentang tahun 1969 hingga 1972. Dengan begitu, total manusia yang pernah mendarat di bulan sejauh ini ada kurang lebih 12 orang.
Teknologi luar angkasa dalam keberhasilan misi ke bulan itu kemudian digunakan kembali di tahun-tahun setelahnya. Seperti pada awal tahun 1970-an, satelit komunikasi dan navigasi mulai diluncurkan. Bahkan sebuah wahana antariksa bernama Mariner juga diluncurkan Amerika Serikat untuk mengorbit dan memetakan permukaan Mars.
Pada akhir dekade 70-an, Amerika Serikat juga meluncurkan wahana antariksa Voyager 1 dan Voyager 2, yang memiliki misi untuk memotret Jupiter dan Saturnus, bersama dengan cincin dan satelit mereka dari dekat.
Pada 1980-an, teknologi luar angkasa semakin berkembang pesat lagi. Sudah banyak kala itu satelit komunikasi yang diluncurkan untuk mendukung berjalannya program-program televisi, telepon komunikasi, hingga internet.
Teknologi luar angkasa Indonesia sendiri dimulai sejak tahun 1976 dengan peluncuran satelit Palapa A1 dan tahun 1987 dengan peluncuran satelit Palapa B1, keduanya merupakan sebuah satelit komunikasi.
Era Stasiun Luar Angkasa
Teknologi luar angkasa pasca perang dingin terlihat dalam pembentukan Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) oleh Amerika Serikat dan Rusia pada 20 November 1998.
ISS adalah sebuah laboratorium penelitian yang ditempatkan di orbit rendah bumi, ISS menjadi simbol kerja sama dalam eksplorasi luar angkasa antara dua negara besar yang dulu bersaing.
ISS merupakan satelit terbesar buatan manusia dan dapat dihuni oleh tiga sampai enam astronot yang bergantian pergi-pulang selama enam bulan sekali sejak November 2000.
Untuk menuju ISS, manusia menggunakan teknologi kapsul antariksa bernama Soyuz buatan Rusia, sementara logistiknya diangkut dengan kapsul Dragon milik Amerika Serikat.
Teknologi Luar Angkasa Indonesia
Pada tahun 1986, Indonesia sempat memiliki astronot pertama bernama Prof. Dr. Pratiwi Sudarmono.
Beliau ditugaskan untuk ikut dalam misi STS-61H, yang bertujuan untuk mengirim satelit Palapa-B2P, Skynet 4A, dan WESTAR 6S ke orbit bumi.
Pratiwi seharusnya berangkat pada tanggal 24 Juni 1986 dan pulang kembali 1 Juli 1986. Namun, rencana itu gagal. Misi dibatalkan karena adanya kecelakaan pesawat Challenger, sebuah pesawat ulang alik yang meledak 73 detik setelah diluncurkan, menyebabkan kematian tujuh awak astronotnya. Pesawat nahas itu hancur di atas Samudera Atlantik.
Sejak saat itu, teknologi luar angkasa Indonesia lebih terfokus pada sistem komunikasi satelit untuk komunikasi antardaerah dan antarnegara, serta menyambungkan komunikasi telepon, televisi, radio, faksimili, dan internet.
27 tahun berselang, Indonesia melalui Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mulai kembali mengembangkan satelit sendiri hasil riset dan kerja sama dengan Jerman. Pada 10 Januari 2010, satelit komunikasi dan penginderaan jauh terbaru milik Indonesia yang bernama LAPAN A1 diluncurkan.
Lalu pada September 2015, LAPAN yang bekerja sama dengan Organisasi Radio Amatir Indonesia (ORARI), sukses meluncurkan satelit LAPAN A2 dengan menumpang satelit milik India.
Hingga yang terbaru, bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB), LAPAN meluncurkan satelit LAPAN A3 pada tahun 2016. Ketiga satelit terbaru Indonesia itu memiliki tugas yang hampir sama, tetapi dengan teknologi satelit yang berbeda dan semakin berkembang.
Komentar
Posting Komentar