Vlad III

Gambar
    Vlad III, yang juga dikenal dengan julukan "Vlad the Impaler" atau "Vlad Dracula," adalah seorang pemimpin militer dan penguasa yang dikenal karena kebijaksanaannya yang keras dan tindakan kejamnya selama masa pemerintahannya di Wallachia, sebuah wilayah di Transilvania, sekarang bagian dari Rumania. Vlad Dracula hidup pada abad ke-15 dan memiliki reputasi yang kuat dalam sejarah Eropa. Berikut adalah profil singkat mengenai Vlad Dracula: 1. Kelahiran dan Keturunan: Vlad Dracula, juga dikenal sebagai Vlad III atau Vlad Tepes, lahir pada sekitar tahun 1431, di Sighisoara, Transilvania (sekarang bagian dari Rumania). Ia adalah anggota keluarga Draculesti dan merupakan keturunan dari Vlad II Dracul. 2. Pemerintahan di Wallachia: Vlad Dracula memerintah Wallachia dalam beberapa periode selama abad ke-15. Pemerintahannya yang paling terkenal adalah ketika ia menjadi Voivode (penguasa) Wallachia pada tahun 1456, kemudian pada tahun 1476. Selama masa pemerintahannya, i...

Pertempuran Austerlitz

    Pada 2 Desember 1804, Napoleon memahkotai dirinya sendiri di Katedral Notre-Dame, Paris, sebagai Kaisar Perancis. Eropa sebelumnya belum pernah melihat kenaikan yg cepat dan dramatis dari Seorang Bangsawan Miskin, 5 Tahun sebelumnya, setelah berhasil mengkudeta Pemerintah Direktori di Paris dan menjadikannya sebagai Konsul Pertama Perancis. Revolusi dan Perang telah membuka jalan Napoleon menuju Tahta.

    8 bulan setelahnya, Prancis yg bersekutu dengan Spanyol, berencana untuk Menginvasi Inggris. Napoleon mengumpulkan 180.000 pasukannya di sepanjang selat Inggris. Pasukan Kekaisaran Prancis yg kini dikenal sebagai, Grande Armée. Tetapi, selama Royal Navy Inggris mendominasi Lautan, rencana itu mustahil. Tetapi, Inggris pun tidak dapat melawan Perancis di Daratan Eropa. Dengan begitu, Perdana Menteri Inggris, William Pitt Jr. mencoba membuat sebuah koalisi negara Eropa melawan Napoleon, dengan Diplomasi, dan Emas

    Bagi Inggris, Perancis dan Napoleon harus dikalahkan,  dan keseimbangan kekuasaan Negara-Negara Eropa harus dipulihkan, jika ingin adanya perdamaian Abadi. 

    Pitt menemukan Sekutu Eropa yg dengan Sukarela untuk melawan Napoleon, diantaranya Kerajaan Napoli, Swedia, Rusia, dan Austria. Austria adalah yg memendam Dendam paling dalam, melihat pengaruhnya di Jerman dan Italia perlahan memudar oleh Kemenangan Prancis. 

    Serangan Utama akan dibuat oleh kombinasi pasukan Austria-Rusia, maju menyebrangi Sungai Rhine, menuju Prancis. 

    Napoleon bereaksi dengan cepat menghancurkan rencana itu, memerintahkan Tentaranya untuk berbaris di Sepanjang Sungai Rhine.

    Target utamanya adalah Pasukan Austria yg dipimpin oleh Jenderal Karl Mack, yg menginvasi Bavaria, Negara Boneka Prancis.

    Napoleon memerintahkan agar Marsekal Joachim Murat untuk membuat Serangan Tipuan melewati Black Forest, sementara Pasukannya yg lain akan memutar, mengepung Austria dari Utara. Musim panas itu, Grande Armée berada dalam fase terbaiknya. Apalagi setelah diorganizir dalam bentuk yg baru yg disebut Korps, Masing-masing dipimpin oleh Seorang Marsekal, terdiri atas 15 ribu sampai 30 ribu orang, masing-masing memiliki Unit Infantri,Kavaleri, Artileri, artinya, kini pasukan dapat bergerak lebih cepat, tidak bergantung pada gerobak Logistik yg lambat, Menyebar dari Satu Desa ke Desa lainnya untuk mengisi Logistik, juga, mampu bertempur sendirian untuk waktu yang singkat.

    Mack, tidak menyadari Bahaya nya hingga sudah terlambat. Napoleon terus bergerak, menyeberangi Danube, di belakang Mack, mengelilingi Tentara Austria. Mack mencoba melawan, Mack berharap mendapatkan bantuan dari Pasukan Rusia yg dipimpin oleh Kutuzov, tapi pasukan Rusia masih berjarak 160 mil jauhnya. Dengan begitu, pada 19 Oktober, Mack menyerahkan Pasukannya pada Napoleon di Ulm.

    Jenderal Rusia, Mikhail Kutuzov, adalah komandan berpengalaman dan waspada, lebih berhati-hati ketimbang Mack. Pasukannya kelelahan setelah berbaris 900 Mil dari Rusia, tetapi mendengar kabar menyerahnya Austria di Ulm, dan tahu bahwa ia tidak cukup kuat melawan Napoleon sendiri, ia segera memerintahkan mundur pasukannya, Napoleon pun mengejar. Rusia berusaha melawan dengan serangan kecil, tetapi tidak bisa mencegah dikuasai nya Ibukota Austria, Wina, yg dikuasai Pasukan Perancis pada 12 November.  

    Kutuzov kabur ke Olmütz, dimana ia bergabung dengan Pasukan Koalisi lainnya, termasuk Kaisar Alexander, dan Kaisar Francis II. Napoleon geram ketika tahu jika Kutuzov berhasil melarikan diri, Pasukan Perancis kelelahan, jauh dari Rumah, berharap sebuah pertempuran yg menentukan. 

    Beruntung baginya, Kaisar Rusia, Alexander I,  yg berusia 27 tahun, yg terlalu percaya diri, mencari kejayaan, mengabaikan kekhawatiran Jenderal Kutuzov. Rusia segera mendekati Napoleon. Napoleon dengan hati-hati mengumpulkan pasukannya di dekat kota Austerlitz.

    Napoleon mengawasi penempatan Pasukannya hingga tengah malam, kemudian mengambil beberapa jam untuk tidur di samping Api Unggun. Fajar akan menandai pemahkotaan dirinya sebagai Kaisar, menentukan nasib Kekaisarannya pada kejayaan atau kehancuran. 

    Pagi hari, 2 Desember 1805, Dingin dan cerah, dengan kabut tebal.

    Pasukan Prancis dan Koalisi bertemu satu sama lain di medan perang seluas 7 mil. Koalisi yg dipimpin Rusia menempatkan pasukannya di dataran tinggi Pretzen, sementara Korps III Perancis yg dipimpin oleh Marsekal Louis Nicholas Davout masih berbaris menuju medan perang.

    Melihat Sayap kanan yg tipis Prancis, pasukan koalisi berencana untuk melakukan serangan skala besar dari dataran Pretzen, sebelum kemudian memutar menuju Pasukan Utama Perancis, Sesuatu yg sebenarnya Napoleon rencanakan.

    Pertempuran dimulai sekitar pukul 7 pagi, ketika pasukan Austria yg dipimpin oleh Jenderal Kiemayer menyerang pasukan Perancis di Desa Telnitz. Pasukan Prancis di Telnitz berusaha bertahan sekuatnya.

    Tapi, Pasukan koalisi belum juga melakukan serangan besar-besaran. Kabut pagi, dan perintah yg telat, menunda serangan itu. Sampai beberapa jam sebelum kemudian 3 Kolom Koalisi bergerak meninggalkan Pretzen.

    Segera saja, pertempuran ganas terjadi di Desa Sokolnitz.

    Marsekal Davout yg baru saja tiba setelah berbaris selama 2 hari sejauh 70 mil, datang memperkuat Sayap kanan Perancis. 

    Pukul 9 pagi, serangan besar-besaran Rusia menyerang Sayap kanan.  Brigade Davout terus mencoba mempertahankan Telnitz dan Sokolnitz. 

    Ketika Kabut berangsur-angsur menghilang, Napoleon melihat apa yg dia harapkan,  Koalisi telah meninggalkan Dataran Pretzen, dan memerintahkan Marsekal Soult untuk mulai menyerang. Serangan Prancis awalnya tak terdeteksi oleh Kabut. Ketika kemudian Kabut menghilang dan pasukan koalisi menyadari serangan ini, pasukan Perancis telah menyerang Sayap Tengah Koalisi.

    Kutuzov berusaha mengorganizir pasukan nya mempertahankan Pretzen. 2 jam selanjutnya diisi oleh pertempuran berdarah, tembakan senapan musket dengan cepat dan ganas, sehingga kedua pihak segera kehabisan Amunisi dan beralih ke Bayonet. Pukul 11, Prancis, dengan keunggulan dan kedisiplinan, berhasil merebut Pretzen.

    Di Utara, Pertempuran Kavaleri besar terjadi, selagi Pasukan Rusia yg dipimpin oleh Jenderal Bagration merebut desa Boselnitz, sebelum kemudian diusir oleh serangan Artileri Prancis dari Bukit Santon. Serangan menentukan dilakukan oleh Resimen Kavaleri Berat ke-6, akhirnya mendorong balik Koalisi, memberikan Korps V Marsekal Lannes maju ke depan, merebut Blasowits dan Krug.

    Adipati Agung, Constantine, pemimpin Garda Kekaisaran Rusia memimpin pasukan cadangan maju, berusaha merebut Dataran Pretzen. Batalion dari Resimen Infantri ringan ke-4 Prancis diserbu oleh Kavaleri Rusia, kehilangan Panji Elangnya dalam pertempuran berdarah.

    Napoleon mengirimkan Garda Kavaleri Kekaisarannya, mengusir Garda Kavaleri Kekaisaran Rusia. Dalam pertempuran berdarah antara kedua pasukan Kavaleri Elit ini, Prancis akhirnya menang.

    Prancis berhasil mematahkan garis tengah Koalisi. Ia berencana untuk menyerang Pasukan Koalisi yg menyerang Sayap kanan yg masih terkunci di pertempuran Sokolnitz.

    Sekitar Pukul 2 Siang, 4 Divisi Prancis menuruni Pretzen ke selatan.

    Jenderal Buxhöwden, pimpinan Koalisi yg tersisa sekarang melihat ancaman ini. Serangan dari 3 Sisi, Satu-satunya jalan keluar adalah ke selatan. Banyak pasukan nya yg melarikan diri melewati Telaga Satszhan dan Menitz yg membeku. Artileri Prancis membuka tembakan, mencoba memecah Es dengan Bola meriam.  Sekitar 200 orang dan Lusinan Kuda tenggelam ke Danau yg membeku.

    Napoleon, telah memenangkan pertempuran paling briliannya. Tentara nya telah menangkap 10.000 tahanan, dan 45 Panji-panji musuh.

    Ribuan orang tewas dari kedua belah pihak, kebanyakan dibiarkan begitu saja selama berhari-hari.

    Pertempuran 3 Kaisar ini,  merupakan pukulan telak bagi Koalisi ketiga. Sementara Pasukan Rusia mundur kembali ke Rusia, Austria, terpaksa menerima ganti rugi yg memalukan, membayar 40 juta Franc, dan menyerahkan banyak wilayahnya pada Prancis, dan berdamai.

    Sementara itu, Kemenangan Napoleon di Austerlitz, Ada berita dari Kekalahan Armada Franco-Spanyol di laut tanjung Trafalgar. Admiral Inggris, Horatio Nelson, telah mendalangi kemenangan yg total, memastikan Dominasi Laut Inggris, bukan hanya untuk 10 tahun ke depan, tetapi untuk 100 tahun ke depan, tentu saja dengan bayaran Nyawanya. 

    Inggris mendominasi Samudera, Sementara Prancis, mendominasi Eropa. Sang Paus dan Sang Gajah tidak bisa menantang yg lainnya di wilayah keunggulan nya. 

    Ketika William Pitt menerima berita kemenangan Napoleon di Austerlitz, ia diduga telah mengatakan "Gulung lah peta Eropa itu, ia tidak akan kita butuhkan untuk 10 tahun ini". Sebulan kemudian, Pitt meninggal, tetapi peringatan nya bahwa Eropa akan menghadapi 10 tahun lagi perang dan kekacauan, terbukti tepat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KESALAHAN BERPIKIR